Penelusuran perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu tulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Nama-nama prasasti antara lain:
- Kududukan Bukit (683 Masehi),
- Talang Tuwo (684 Masehi),
- Kota Kapur (686 Masehi),
- Karang Brahi (686 Masehi),
- Gandasuli (832 Masehi),
- Bogor (942 Masehi)
Prasasti itu merupakan tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dengan bahasa Sansekerta.
- Prasasti kedudukan bukit yang ditemukan di tepi sungai Tantang di Sumatera Selatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya.
- Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka menjelaskan tentang kontruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas penitas Hyang Sri Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri.
Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi asal-usul bahasa Melayu. Trakrar London 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat penting.
Bahasa mereka yaitu bahasa Melayu, bukan saja dipantai-pantai tamah Melayu, melainkan juga di seluruh Indian dan dinegeri-negeri sebelah Tinur . Oleh karena banyaknya bahasa ini digunakan, maka seorang yang mampu bertutur dalam bahasa Melayu dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina. Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun lokasinya yang berada dipintu gerbang Selat Malaka. Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Menjelmanya kota itu menjadi pusat penyebaran agama Islam.
Dengan demikian, Malaka. Menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran agama Islam.
Pada tahun 1511 misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melatu tetap berlangsung.
Pada tahun 1511 misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melatu tetap berlangsung.
Bahasa Melayu menambah jalannya juga kebenua Eropa dalam abad ke-16.
Pada tahun 1979 Raja Kecil, dari istana Kerajaan Johor, dipaksa dipindahkan pusat kekuasaannya ke Ulun Riau, di Pulau Bintan, salah satupulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Dalam periode inilah bahasa melayu memperoleh ciri ke-Riauannya, dan bahasa Melayu inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetus oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 1713. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya. Ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bujunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normarif bahasa Malayu Riau; dan tahun 1894.
Pada tahun 1857 buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga.
Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai uapaya awal dalam proses pembakuan bahasa melayu Riau. Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendri .
Beberapa peristiwa penting menyangkut perkembangan bahasa Melayu Riau:
Berikut kongres bahasa Indonesia:
1. Pada tanggal 25-26 Juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia I di Solo.
Dari kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawaan Indonesua saat itu. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah UUD RI 1945, yang salah satu pasalnya menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik sebagai penggantian Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
2. Kongres bahasa Indonesia II di Medan tanggal 28 Oktober-2 November 1954
Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha menjadi perwujudan tekad bangsa Indonesia terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara. Pada tanggal 16 Agustus 1972, presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan EyD melalui pidato kenegaraan di sidang DPR yang dikuatkan juga dengan keputusan Presiden No.57 tahun 1972.
3. Kongres bahasa Indonesia III di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1978.
Dari hasil kongres itu dapat disinpulkan bahwa peristiwa penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dalam kongres ini dapat disepakati pula bahwa kongres bahasa Indonesia dilaksanakan setiap 5 tahun sekali setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda.
4. Kongres bahasa Indonesia IV di Jakarta 21-26 November 1983.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam keputusannya disebutkan bahwa pembinaan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan.
5. Kongres bahasa Indonesia V di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-3 November 1988.
Kongres imi dihadiri kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangi dengan persembahan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa Indonesia di nusantara, yakni KBBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
6. Kongres bahasa Indonesia VI di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1993.
Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang. Kongres ini mengusulkan agar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan statusnya menjadi lembaga bahasa Indonesia, serta disusunnya UU Bahasa Indonesia.
7. Kongres bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia pada tanggal 26-30 Oktober 1998.
Kongres itucmengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentutan keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. Tugasnya memberi nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengmbangan Bahasa.
8. Kongres bahasa Indonesia VIII di Hotel Indonesia pada tanggal 14-17 Oktober 2003.
Peserta kongres diperkirakan berjumlah 1000 orang. Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinyavpusat bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, sebagai puncak dari seluruh kegiatan kabahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres XI bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008.
9. Kongres bahasa Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-1 Novber 2008.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres ini bersekala Internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.
10. Kongres pemuda Indonesia X di Jakarta 28-31 Oktober 2013.
Dalam kongres X setelah mendengar dan memperhatikan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaab merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan kepala badan pengembangan dan pembinaan bahasa, serta paparan enam makalab pleno tunggal, di antaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang bergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi berkembang selama persidangan KBI X.
Pada tahun 1857 buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga.
Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai uapaya awal dalam proses pembakuan bahasa melayu Riau. Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendri .
Beberapa peristiwa penting menyangkut perkembangan bahasa Melayu Riau:
- Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda.
- Tahun 1901 Charles van Ophuijesen menerbitkan bukunya yang berjudul kitab logat Melajoe, yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan huruf Latin yang bersifat fenomenis.
- Tahun 1918 bahasa Melayu mulai dipergunakan di dalam sidang-sidang Volksraad.
- Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa balai Pustaka.
- Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa melayu dijadikan oleh para Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertulang pada butir ketika Soempah Pemoeda yang diijrarkannya.
- Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkancberbagai majalah dan bukum
- Pada tahun 1938 Kongres bahasa Melayu di Solo. Kongres ini meletakkan dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu lagi.
- Tahun 1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di semua jenjang pendidikan.
- Pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh dunia dengan menggunakan bahasa Indonesia.
- Tahun 1945 Kongres bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan daru Semenanjung Malaya dan Singapura.
- Tahun 1972 antara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang kebudayaan.
- Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan EyD di Indonesia dan di Malaysia.
- Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan istilah di Indonesia dan Malaysia, sehingga Negara Brunau Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam majelis bahasa ini.
- Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya diselenggarakan secara teratur setiap lima tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia.
- Kerjasama kebahasaan antara Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia, Negara Malaysia, Negara Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh.
Pada tahun 1956 terbentuk Negara Persekutuan Tanah Melayu. Peristiwa ini kemudian disusul dengan terbentuknya Negara Malaysia, yang mencangkup Serawak dan Sabah. Setelah kemerdekaan dicapai, bahasa Melayu dinegara tersebut mulai memerankan fungsinya sebagai bahasa resmi, bahasa negara, bahasa nasional, dan mengalami perkembangan cukup pesat. Bahkan secara de facto telah berperan sebagai bahasa komunikasi luas di Asia Tenggara.
Berdasarkan petunjuk-petunjuk lainnya, dapatlah kita kemukakan bahwa zaman sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut:
- Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku-buku tang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
- Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Indonesia.
- Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama disepanjang pantai, baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang daru luar Indonesia.
Berikut kongres bahasa Indonesia:
1. Pada tanggal 25-26 Juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia I di Solo.
Dari kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawaan Indonesua saat itu. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah UUD RI 1945, yang salah satu pasalnya menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik sebagai penggantian Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
2. Kongres bahasa Indonesia II di Medan tanggal 28 Oktober-2 November 1954
Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha menjadi perwujudan tekad bangsa Indonesia terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara. Pada tanggal 16 Agustus 1972, presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan EyD melalui pidato kenegaraan di sidang DPR yang dikuatkan juga dengan keputusan Presiden No.57 tahun 1972.
3. Kongres bahasa Indonesia III di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1978.
Dari hasil kongres itu dapat disinpulkan bahwa peristiwa penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dalam kongres ini dapat disepakati pula bahwa kongres bahasa Indonesia dilaksanakan setiap 5 tahun sekali setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda.
4. Kongres bahasa Indonesia IV di Jakarta 21-26 November 1983.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam keputusannya disebutkan bahwa pembinaan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan.
5. Kongres bahasa Indonesia V di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-3 November 1988.
Kongres imi dihadiri kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangi dengan persembahan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa Indonesia di nusantara, yakni KBBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
6. Kongres bahasa Indonesia VI di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1993.
Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang. Kongres ini mengusulkan agar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan statusnya menjadi lembaga bahasa Indonesia, serta disusunnya UU Bahasa Indonesia.
7. Kongres bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia pada tanggal 26-30 Oktober 1998.
Kongres itucmengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentutan keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. Tugasnya memberi nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengmbangan Bahasa.
8. Kongres bahasa Indonesia VIII di Hotel Indonesia pada tanggal 14-17 Oktober 2003.
Peserta kongres diperkirakan berjumlah 1000 orang. Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinyavpusat bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, sebagai puncak dari seluruh kegiatan kabahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres XI bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008.
9. Kongres bahasa Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-1 Novber 2008.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres ini bersekala Internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.
10. Kongres pemuda Indonesia X di Jakarta 28-31 Oktober 2013.
Dalam kongres X setelah mendengar dan memperhatikan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaab merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan kepala badan pengembangan dan pembinaan bahasa, serta paparan enam makalab pleno tunggal, di antaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang bergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi berkembang selama persidangan KBI X.
0 komentar:
Posting Komentar