Cara Penyebutan Huruf


Huruf
Penjelasan
Vokal a
Labium terbuka, vokal rendah, vokal bundar
Vokal i
Vokal tinggi atas, depan, tak bundar
Vokal u
Vokal tinggi atas, depan, tak bundar
Vokal e
Vokal sedang atas, depan, tak bundar
Vokal o
Vokal sedang atas, depan, tak bundar
Konsonan b
Konsonan bilabial, hambat bersuara
Konsonan c
Konsonan palatal
Konsonan d
Konsonan apikoalveolar, hambat, bersuara
Konsonan f
Konsonan labiodental, geseran
Konsonan g
Konsonan velar
Konsonan h
Konsonan laringal, geseran, bersuara
Konsonan j
Konsonan palatal
Konsonan k
Konsonan velar
Konsonan l
Likuida, konsonan apikoalveolar
Konsonan m
Konsonan bilabial, nasal
Konsonan n
Konsonan apikoalveolar, nasal
Konsonan p
Konsonan bilabial. hambat
Konsonan q
Konsonan letup tekak
Konsonan r
Konsonan getar, konsonan apikoalveolar
Konsonan s
Spiran, konsonan laminopalatal, geseran
Konsonan t
Konsonan apikoalveolar
Konsonan v
Konsonan labiodental, geseran, bersuara
Konsonan w
Konsonan bilabial, semi vokal
Konsonan x
Konsonan dorsovelar, geseran, bersuara
Konsonan y
Konsonan laminopalatal, semivokal
Konsonan z
Spiran, konsonan laminoalveolar, geseran
Diftong ai
Diftong naik
Diftong au
Diftong naik
Diftong oi
Diftong naik
Klusher kh
Konsonan velar, frikatif
Kluster sy
Spiran
Kluster ny
Konsonan palatal, konsonan nasal
Kluster ng
Konsonan velar, konsonan nasal

Kartun Media Pembelajaran

 Peran guru sangat penting untuk mendidik peserta didik dalam kemajuan siswanya, sekali guru salah bertindak akan berdampak pada kegagalan siswa. Oleh karena itu guru harus berhati-hati dalam bertindak dan mendidik anak.



Dalam kartun ini yang akan saya sampaikan adalah hal yang berkaitan dengan kesopanan, tegas, rapi, kedisiplinan, serta bertanggung jawab.
  • Selain kecerdasan ada harapan orang tua yang biasanya menyertai anak, yaitu budi luhur. Agar anak bisa memiliki budi luhur yang baik, orang tentunya harus mengajarkan pendidikan anak berupa sopan santun sejak dini. Anak memang sebaiknya mendapat pengajaran sejak masih kecil, karena dari kecil perilaku anak lebih mudah dibentuk.  Tingkat kecerdasan sesorang tidak menjamin terbentuknya karakter yang baik. Tidak dapat di pungkiri lagi, bahwa dewasa ini sikap sopan santun pada anak-anak berkurang drastis. Meskipun pelajaran sopan santun telah diterapkan disekolah, tetapi sepertinya sopan santun kini adalah ssuatu yang mahal.  Pendidikan sopan santun yang paling utama berasal dari keluarga. Sopan santun merupakan suatu kebiasaan yang di bentuk dalam waktu yang lain. Selain guru orang tua juga sangat berperan penting untuk menumbuhkan sikap sopan santun terhadap anak.
  • Tegas dalam pengambilan keputusan sangat lah penting, tegas merupakan sikap yang berani dan percaya diri mengungkapkan apa yang benar dan apa yang salah, jika dikatakan salah ya tetaplah salah, jika benar katakan benar tanpa memandang kondisi atau kepada siapa hal tersebut diutarakan.
  • Rapi yang dimaksud dalam kartun ini yaitu rapi dalam berpakaian. kita tahu bahwa peserta didik akan mengikuti gaya dari apa yang mereka lihat, saya memasukkan rapi dalam kartun ini agar siswa dapat melihat kartun tersebut bahwa apabila sesorang yangrapi dlaam berpakaian sangat lah indah unuk dilihat.
  • Mendisiplinkan anak memang tidak semudah yang dikatakan. Mendidik kedisiplinan anak bukan berarti anda memaksa mereka untuk berpikir dan berlaku seperti apa yang anda inginkan. Hasil kedispilinan pun terlihat pada masa depan anak. Dalam Boldsky dijelaskan, disiplin tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuh kembangkan dan diterapkan. Anak yang disiplin akan lebih percaya diri dari kemampuannya, dengan demikian dia memiliki sikap positif terhadap kehidupan dan yakin dapat membuat keputusan  kreatif.
  • Tanggung jawab merupakan perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap situasi setiap hari, yang memerlukan beberapa jenis keputusan yang bersifat moral. Tanggung jawab dapat ditanamkan dan di ajarkan sejak usia dini. Tanggung jawab terhadap anak sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajar anak di sekolah. Berhasil tidaknya mereka disekolah sangat ditentukan oleh cara mereka menaggapi batasan dan aturan, serta bagaimana mereka menerima tanggunng jawab.

Puisi Anak

SAHABAT SEKELASKU


Bangun ku pagi
Terbitlah matahari
Bersiap aku
Memuju Sekolahku

Semangat aku
Untuk bertemu dia
Dia yang sedang menungguku
Untuk mengahabiskan waktu

Dia yang kadang kesal kepadaku
Dia yang kadang marah karenaku 
Dia yang melarangku
Karena dia sayang kepadaku

Dulu kami yang tak mengenal satu sama lain
Dulu kami yak tak saling sapa
Kini kami bersama
Untuk menerangi dunia

Hakikat Sastra Anak

A.Sastra Anak

Sastra anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalagan anak-anak. Pramuki (2000) mengungkapkan bahwa sastra anak adalah karya sastra (prosa, puisi, darama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan, sifat-sifat dan perkembangan anak. Solchan dkk (1994:225) membangi pengertian sastra anak atas dua bagian yakni: pertama sastra anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Kedua sastra anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.
Dengan demikian sastra anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai dengan perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melaikan juga bentuk drama.

B. Jenis Karya Sastra Anak

Sastra anak-anak dapat dibagi atas tigamacam sebagai berikut:
1. Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan irama dan rima sehingga sungguh indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya. Waluyo (1987) mengklasifikasi puisi berdasarkan cara penyiar mengunggkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan, terbagi atas puisinaratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif.
 Puisi naratif adalah puisi yang isinya berupa cerita, penyiar menyampaikan gagasan dalam bentuk puisi dengan cara naratif yang didalamnya tergambar ada perilaku yang berkisah. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita, puisi lirik berupa pengunggakapan pujian terhadap seseorang. sedangkan puisi deskriptif adalah penyiar yang mengungkapkan gagasannya dengan cara melukiskan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah didalamnya.

2. Prosa
 Menurut Surana (1984:105) prosa adalah bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa, bukan puisi. Terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya, biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain dalam kelompokkelompok yang merupakan aliena-aliena. Menurut Aminuddin(2004:66) prosa sifsi adalah kisahaan atau cerita yang diemaban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pameran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat dikatakan bahwa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas rangkaian bait demi bait tetapi dibuat atas rangkaian paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur-unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alu, peristiwa, pelaku berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. Cullinan(1989) menyebutkan beberapa jenis prosa fiksi antara lainprosa fiksi sains, prossa fiksi realistik dan prosa fiksi imajinatif.
Prosa fiksi sains adalah cerita fiksi yang disusun dengan menekankan pada isi yang ingin disampaikan. Isi yang ingin disampaikan  berupa ilmu pengetahuan (sains) atau bersifat faktual. Prosa fiksi realistik adalah cerita yang disusun dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang logis, baik berkaitan dengan etika, moral, religius, dan nilai-nilai lainnya. Prosa fiksi imajinatif adalah cerita yang didalamnya menyajikan rangkaian peristiwa yang pelaku-pelakunya hanya ada dalam dunia imajinasi pengarang dan tidak ada dalam kehidupan sehari-hari.

3. Drama
Drama adalah salah satu karya sastra yang dipakai sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkaian dialog antar pelaku dan adegan, yang bertujuan utamanya bukan untuk dibacakan secara estetis melainkan untuk dipertunjukkan.

C. Ciri-ciri Puisi Anak-anak

Ciri-ciri yang perlu diperhatikan dalam memilih puisi di SD, menurut Rusyana (dalam Nadaek,1985:62) adalah isi sajak harus merupakan pengalaman dari dunia anak sesui umur dan taraf perkembangan jiwa anak, kemudian sajak itu memiliki daya tarik terhadap anak, dan saajk itu harus memiliki keindahan lahiriah bahasa misalnya irama yang hidup, tekanan data yang nyata, permainan bunyi, serta perbendaharaan kata yang sesui dengan dunia anak.

D. Ciri-ciri Cerita Anak-anak

Hasyim(1981) mengemukakan bahwa cerita yang diberikan kepada aank sebagai bahan belajar di SD hendaklah memiliki ciri sebagai berikut:
  1. Bahasa yang digunakan haruslah sesui dengan tingkat perkembangan bahasa anak,
  2. Isi ceritanya haruslah sesui dengan tingkat umur dan perhatian anak,
  3. Hendaklah jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak.
E. Ciri Drama Anak-anak

Pembelajaran sastra yang berkaitan dengan drama di sekolah dasar hendaklah menggunakan bacaan drama abak-anak. Drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari segi bahasanya, tema, pesannya. Yang berbeda adalah dari segi dialog yang sederhana dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan terbelit.




DAFTAR PUSTKA

 Aminuddin.2004.Pengantar Apresiasi Sasrta.Bandung:Sinar Baru Algesindo.
Cullinan,Brance.1989.Literature and The Child.New York:Harcouct Brace Jovanovich.
Hasyim.1981.Pengajaran Sastra.Jakarta:Depdikbud
Pramuki.Esti.20000.Apresiasi Karya Sastra Anak Secara Respektif.Jakarta:Dikti Depdikbud
Solchan dkk.1994.Kecendrungan Perkembangan Sastra Anak-anak.Dalam Jurnal Bahasa ,Sastra,Seni dan penerapannya. Thn 22. No. 2. Jui hal 224-231.



Hubungan Teori Sastra, Sejarah Sastra dan Kritik Sastra

Hubungan Teori Sastra, Sejarah Sastra dan Kritik Sastra



A. Teori Sastra

Wellek (1978:1) mendefenisikan teori sastra sebagai studi tentang prinsip-prinsip sastra, kategori, kriteria, dan lain-lain. Sementara Lye (dalam musthafa,2008:11) mendefinisikan teori sastra sebagai ilmu yang berusaha menjelaskan apa itu sastra, fungsi, antara hubungan dengan teks dengan pengarang, pembaca, bahasa, masyarakat, dan sejarah. Pemahaman teori terhadap sastra dalam lingkup sastra menjadi sebuah kebutuhan mutlak untuk dapat mendalamai hakikat sastra itu sendiri. Bahkan, dalam usaha kaijian penelitian maupun kritik sastra, penguasaaan teori satra oleh oeneliti atau pengeritik menjadi sebuah kewajiban agar kajian atau kritiknya benar-benar ilmiah dan objektif. Hal senada diungkapkan olehh Bennet dan Royle bahwa teori sastra menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam usaha meneliti atau mengkritik sastra (Wolfreys,2001:1). Dengan teori sastra kegiatan peneliti atau kriitik sastra untuk menafsirkan teks sastra. Oleh sebab itu, semakin tepat teori yang digunakan oleh peneliti dalam menelaah atau menafsirkan karya sastra, semakin baik pula hasil penelitian atau kritiknya.

B. Sejarah Sastra

Sejarah sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra sejak awalsampai sekaarang dan didalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya satra yang mengihiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputaran masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarahwan ssastra harus mendokumentasi karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya karakteristik isi, dan tematik.

C. Kritik Sastra

Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, menganalisis, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian. serta keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra.

D. Hubungan Teori Sastra, Sejarah Sastra dan Kritik Sastra

Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Sedangkan kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra. Kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi  bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra.

Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu,periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari enelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajain karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra terjalin keterkaitan.

Dalam konsep sastra ketiga aspek tersebut sangat erat kaitannya, khususnya dalam pembelajaran sastra. Dalam mempelajari sastra kita dituntut mempelajari teori sastra terlebih dahulu, yang mencangkup hakikat sastra, unsur sastra, dan penilaian terhadap karya sastra agar kita dapat mempelajari sastra sesai dengan fakta yang ada dan dapat dituntut secara rasional. Selanjutnya sejarah sastra yang merupakan kebenaran dari suatu karya sastra, karena jiki suatu sastra memiliki sejarah yang jelas dan bukti yang kuat, maka karya sastra tersebut dapat diakui kebenarannya. Hubungan kritik sastra dengan pembelajaran karya sastra yaitu, dimana kita menilai tentang bobot yang memiliki suatu karya sastra, baik penilaian mengenai keindahan, kelebihan maupun kekurangan.

Permainan Lagu Anak-anak Tradisional

1. CUBLAK-CUBLAK SUWENG




1.1 Pengertian Cublak-cublak Suweng
Nama cublak-cublak suweng diambil dari kata cublak yang berarti tempat, dan suweng yang berarti hiasan telinga. Jadi perminanan cublak suweng adalah permainan meyembunyikan hiasan telinga di suatu tempat.


1.2 Sejarah Permainan Cublak-cublak Suweng
Cublak-cublak suweng berasal dari Jawa Timur, permainan ini diciptakan oleh salah seorang wali songo yaitu Syekh Maulana Ainul Yakin atau biasa yang biasa dikenal Sunan Giri pada tahun 1442 masehi. Tujuannya adalah untuk menyebarkan agama islam khususnya di pulau Jawa.


1.3 Daerah Permainan di Mainkan
Permainan cublak-cublak suweng ini merupakan salah satu permainan tradisonal anak di jawa khusunya Jawa Timur yang biasa dimainkan oleh beberapa anak secara berkelompok. Permainan ini dapat dimainkan dimana saja dan kapan saja. Permainan anak-anak ini berkembang hingga wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.


1.4 Manfaat Permainan Cublak-cublak Suweng
Manfaat yang dapat diperoleh dari permainan ini adalah anak di ajari untuk jujur. Hal itu dapat dibentuk pada saat tebakan siapa yang menggenggam kerikil. Anak yang membawa harus jujur mengakui jika tebakan temannya benar atau salah. Selain itu, nilai yang dapat dibina pada permainan ini yaitu nilai kewaspadaan dan tanggung jawab. Nilai kewaspadaan dapat dibina kektika anak yang menjadi pemimpin teman mainannya harus waspada jangan sampai kerikilya tidak diketahui temannya yang jadi "dadi". Sedangkan nilai tanggng jawab dalam permainan ini yaitu setiap peserta mampu mejalankan setiap peran sesui dengan aturan main dalam permainan.
Manfaat lain yang dapat diperoleh dari permainan tersebut yaitu:

  1. Membangun sportifitas anak
  2. Melatih kemampuan untuk jeli mengamati dan membaca keadaan sehingga dapat menebak dengan benar.
  3. Anak belajar bernyanyi
  4. Sebagai media untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan temannya.

1.5 Pesan Moral Lagu Cublak-cublak Suweng
Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri yang serakah, tetapi semuanya kembalilah kehati nurani, sehingga sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja.


1.6 Deskripsi Permainan
Cublak-cublak suweng merupakan permainan yang dimainkan minimal 3 orang, dan akan semakin menarik jika dimainkan hingga 7 orang atau lebih. Permainan ini dimulai dengan menentukan salah satu dari peserta permainan untuk menjadi Pak Empo (tokoh utama dalam prmainan ini). Pak Empo bertugas mencari sebuah kerikil, atau batu kecil yang akan disembunyikan peserta lain. Sebelumnya Pak Empo berbaring telungkup ditengah-tengah peserta, kemudian peserta lain menaruh telapak tangannya menghadap keatas di punggng Pak Empo.


1.7 Cara Bermain
Pertama yang harus dilakukan dalam permainan ini adalah anak-anak berkumpul bersama, kemudian menentukan siapa yang akan menjadi Pak Empo dengan cara gembreng atau hompipah. Anak yang kalah dalam hompipah maka ia yang akan menjadi Pak Empo berbaring telungkup di tengah, sedangkan yang menang atau yang lainnya akan duduk dan mengelilingi Pak Empo. Masing-masing anak elain Pak Empo meletakkan tangannya dengan posisi mengadah di punggung Pak Empo. Salah satu anak memegang biji kerikil dan dipindah darri telapak tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-cublak Suweng.
Sambil bernyanyi, kerikil atau biji dipindahkan dari tangan satu ke tangan yang lain, setelah kalimat bait berakhir "sir sir pong dele gosong" serahkan biji atau kerikil ketangan seorang anak untuk disembunyikan kedalaam genggaman kedua tangan masing-masing, pura-pura meyembunyikan kerikil, sambil menggerk-gerakkan tangan. Pak Empo bangun dan menebak di tangan siapa biji atau kerikil di sembunyikan. Bila tebakan benar, anak yang menggenggam biji atau kerikil disembunyikan. Bila tebakannya benar, anak yang meggenggam biji gantian menjadi Pak Empo . Bila salah, Pak Empo kembali ke posisi semula dan permainan diulang lagi. 


1.8 Permainan Cublak-cublak Suweng Dalam Pembelajaran dikelas
Permainan ini memiliki manfaat yang snagat besar bagi pertumbuhan anak terutama untuk diajarkan dan dienalkan kepada anak-anak autisme. Dimana anak-anak autisme akan belajar memahami belajar arti kejujuran, bernyanyi, belajar untuk tanggung jawab. meningkatkan kewaspadaan dan menyimpan rahasia.  Selain itu anak dapat mengenal nama-nama temannya. Dengan permainan ini dapat membantu anak untuk berekspresi yang sesui ketika bermain dan suasa belajar pun menyenangkan. Mereka juga akan lebih senang karena mereka tidak akan cepat jenuh dan tidak berasa bosan, dikarenakan mereka tidak menyadari bahwa dalam permainan mereka juga dapat belajar.






2. LIPAN atau KELABANG BUTA


2.1Sejarah Permainan Lipan atau Kelabang Buta
Permainan Lipan Buta atau Kelabang Buta merupakan permainan modifikasi dari permainan Bergandengan Tangan. Teknis permainan bergandengan tangan adalah memindahkan barang dari ujung satu ke ujung lain dengan posisi tangan bergandengan. Dapat dikatakan perminan tersebut sangatlah sederhana, karena permainan hanya dituntut untuk memindahkan benda dari ujung satu ke ujung lainnya dngan bergandengan tangan. Sederhananya permainan tersebut dapat mengakibatkan pemain merasa jenuh karenan tantangan yang diperoleh sagatlah sedikit. Melihat sangat ederhana permainan tersebut, maka anggota UKM Pramuka Rencana Jelantik Jempiring UNDIKSHA, Permainan ini kemudian dimodifikasi menjadi permainan Lipan atau Kelabang Buta. Permainan Lipan atau Kelabang Buta ini merupakan permainan menemukan benda disekitar dengan bergandengan tangan dan salah satu ujung rantai diam di rumah ntuk menunggu benda yang ditemukan anggotanya (tidak boleh bergerak dan berpindah tempat), sedangkan ujung lain ditutup matanya dan bertugas untuk menemukan benda.Kelompok yang lebih dahulu menemukan benda di sekitar (benda yang dicari telah ditemukan) sejumlah anggota kelompoknya akan keluar sebagai pemenang.


2.2 Manfaat Dalam Permainan Lipan atau Kelabang Buta
Secara umum, permianan bermanfaat sebagai hiburan, menghilangkan kejenuhan di tengah-tengah tugas yang mereka hadapisetiap harinya, untuk saling megenal teman sebayanya, dan memperoleh kebugaran demi kesehatan jasmani. Namun, selain itu permainan Kelipan atau Kelabang Buta juga bermanfaat dalam kehidupan berorganisasi ataupun sebagai media pembelajaran bagi siswa dalam kehidupan sosial. 
Tujuan permainan ini adah untuk menciptakan team building, energizier, dan communcation.
Manfaaat yang diperoleh dari permainan Lipan atau Kelabang Buta adalah sebagai berikut:
Mengajarkan cara berkomunikasi yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Dalam permainan Lipan atau Kelabang Buta, siswa dituntut atau belajar untuk berkomunikasi yang baik dengan teman-temannya dalam memecahkan masalah. Kita ketahui bersama, jika komunikasi berjalan dengan tidak baik, maka dapat menimbulkan kesalahan persepsi dan timbul adanya konflik sebagai akibat adanya kesalah pahaman antar individu-individu itu sendiri dalam suara kelompok.
Peserta akan memahami dalam hidup bermasyarakat/kelompok dibutuhkan adanya kontrak sosial, seperti adanya kesepakan siapa yang akan menjadi pemimpin. Hal tersebut untuk menjamin kelangsungan dan kelancaran hidup sehingga tujuan hidup akan tercapai. Dalam permainan, peserta menentukan terlebih dahulu siapa yang akan menjaga rumah , peserta yang ditutup matanya, dan siapa yang bertugas mengarahkan teman yang ditutup matanya tersebut untuk menemukan benda yang dicari. Demikian pula dengan kehidupan sosial, dalam masyarakat kita harus menentukan seorang pemimpin dari kelompok kita sehingga nantinya dapat mengarahkan anggotanya menuju tujuan yang ingin dicapai. 
Memupuk kerja sama yang baik dengan sesama, sepeerti yang kita ketahui manusia tidak bisa hidup sendiri dalam memecahkan suatu masalah tersebut. Dalam problem manusia senantiasa hidup bekerja sama memecahkan masalah tersebut. Dalam permainan Lipan atau Kelabang Buta kita diajarkan untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah dan mencapai suatu tujuan. Dalam pemecahan suatu masalah tersebut , siswa belajar mengesampingkan kepentingan pribadi untuk mencapai kepentingan bersama. Kita belajar  mengahargai pendapat orang lain, belajar dengan bertukar pendapat sehingga tanpa disadari, selain masalah yang dihadapi dapat terselesaikan, hubungan antara anggota kelompok tersebut juga akan semakin baik.

2.3 Aturan-aturan Dalam Permainan Lipan atau Kelabang Buta

1. Golongan umur
    Permainan ini dapat dilakukan oleh anak uia8 tahun hingga dewasa.

2. Tempat pelaksanaan dan jumlah pemain
   Permainan ini dapat dilakukan diluar atau didalam ruangan, namun meskipun dapat dilakukan didalam ruangan  ruangan tersebut harus memenuhisyarat untuk bisa melalukan permainan yakni minimal lapangan berukuran 9x9 m2 untuk jumlah anggota 6-8 orang tiap jumlah timnya.

3. Waktu Pelaksanaan
   Permainan ini berlangsung sesuai dengan lama tidaknya tim menyelesaikan tantangan, yakni mengumpulkan benda yang telah ditentukan benda yang telah ditentukan sesuai dengan jumlah anggota tiap tim.

4. Alat yang diperlukan dalam permainan:
  • Tepung/Kapur yang digunakan untuk membuat rumah atau kepala dari lipan. Kepala lipan berbentuk lingkaran dengan diameter 30cm. Kepala lipan ini nantinya ditempati oleh ujung lipan yang tidak ditutup matanya.
  • Salendang, yang digunakan untuk menutup ujung lipan. Selendang yang digunakan usahakan berwarna hitam atau berwarna gelap sehingga pemain yang ditutup matanya dengan salendang tidak dapat mengintip ketika seadang bermain.
  • Pita, yang digunakan untuk benda yang akan ditempatkan oleh ujung lipan yang ditutup matanya. Jika tidak ada selain pita juga dapat digunakan benda-benda lain sesuai dengan kesepakatan pemain.

2.4 Langkah-Langkah Dalam Permainan Lipan atau Kelabang Buta

Dalam bermain, dibutuhkan satu orang sebagai instruktur pemin. Disekolah instruktur pemain ini adalah guru yang nantinya bertugas untuk mengatur danmenguasai semua jalannya permainan. cara bermain Lipan atau Kelabang Buta adalah sebagai berikut:
  1. Instruktur menyiapkan segala  sesuatu yang diperlukan terlebih dahulu.
  2. Kumpulkan semua peserta, minta mereka untuk berdiri bebas.
  3. Bagilah peserta menjadi kelompok-kelompok setiap kelompok beranggotakan 6-8 orang (jumlah kelompok ideal adalah 2 kelompok). Setiap kelompok dipersilahkan untuk menentukan nama kelompoknya dengan  nama kelompok yakni nama-nama hewan seperti bebek, ayam, jangkrik, anjing, dan sebagainya.
  4. Minta masing-masing kelompok untuk berkumpul dan berbanjar. Ujung yang satu berdiri dilingkaran, ujung yang lai tutup matanya dengan salendang, sedangkan setiap kelompok bergandengan tangan saling bertautan dengan teman sebelahnya.
  5. Instruktur memulai permainan.
  6. Tugas dari pemain yang ditutup matanya adalah untuk menemukan pita (dengan arahan anggota lain) telah disebar sebelumnya oleh instruktur. Selanjutnya pita yang telah ditemukan diserahkan/dikalungkan kepada setiap anggotanya dimulai dari kepala Lipan yang tidak boleh bergerak, kemudian anggota disebalahnya. Demikian seterusnya secara berurutan sehingga semua anggota telah mendapatkan pita. Untuk ujung Lipan yang ditutup matanya (kepala Lipan Buta) dipasangkan oleh kepala lipan yang diam dirumah. Jika pemasangan pita tidak dilakukan secara berurutan, maka kelompok tersebut dinytakan gugur. Teknis pemberian benda yankni pemain yang ditutup matanyadan pemain yang akan mendapat giliran untuk diberikan benda dapat berkomunikasi dengan meneriakkan suara hewan yang menjadi kelompoknya. Seperti bebek bersuara kwek kwek, jangkrik bersuara krik krik, dan kambing bersuara mbekk mbekk.
  7. Kelompok yang telah mengumpulkan pita sesui dengan jumlah kelompok disuruh berbaris lurus dan setiap peserta dari kelompok tersebut harus berteriak secara serempak sesuai dengan suara nama kelompoknya sebagai tanda menyelesaikan tugas, kemudian kelompok tersebut keluar mpenjadi pemenang. 

2.5 Permainan Lipan atau Kelabang Buta dalam Pembelajaarn di Kelas
Permainan ini dapat dimainkan karena dapat membantu anak agar menegnal teman sebayanya, dan pada permainan ini juga dapat meningkatkan keterampilan anak motorik anak.




DAFTAR  PUSTAKA
http://setyani14.blogspot.com/2012/11/cublak-cublak-suweng.html
http://mantraitemdoeloe.blogspot.co.id/2011/04/cublak-cublak-suweng.html
http://catatanNimnim.blogspot.co.id2016/08/cublak-cublak-suweng.html
ikadekwinaya.blogspot.co.id/2014/01/permainan-lipankelipang-buta.html

Sintaksis

TUGAS SINTAKSIS


A. SINTAKSIS
Sintaksis merupakan bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, kalusa, dan frase.

B. FRASE
Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.

C.  JENIS FRASE
  1. Frase Endosentrik Koordinatif, yaitu frase yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat yang dapat dihungkan dengan kata dan atau. Misalnya rumah pekarangan.
  2. Frase Endosentrik Atributif, yaitu frase yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau. Misalnya buku baru.
  3. Frase Endosentrik Aposif, yaitu frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Misalnya Amin anak pak Anto sedang belajar.
  4. Frase Ekosentrik, yaitu frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Misalnya di pasar.

D. FRASE DITINJAU DARI SEGI PERSAMAAN DISTRIBUSI DENAGAN GOLANGAN KATA
Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata:
  1. Frase Verbal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba (kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contoh: bapak saya belum pergi.
  2. Frase Nominal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan kalausa. Contoh: kakek membeli tiga buah layang-layang.
  3. Frase Adjektival, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Cobtoh: baju itu sangat indah.
  4. Frase Pronomia, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Contoh: saya sendiri akan pergi kepasar.
  5. Frase Numerelia, yaitu frase dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numerelia. Contoh: Tiga buah rumah sedang terbakar.

Tentukan frase dari satu berita yang terdapat dikoran!

1. Frase Verbal :
  • Berkeliling dengan sepeda 
  •  Mengurus anak-anak dan suami
  • Tidak ada jadwal perjalanan
  • Untuk jalan-jalan atau sekedar makan diluar 
2. Frase Nominal :
  •  Berkeliling dengan sepeda setiap tahunnya
  • Daripada kendaraan lain
  • Alat transportasi ramah lingkungan
3. Frase Adjektival :
  • Sudah punya kehidupan masing-masing 
  • Sudah menikah dan mempunyai keluarga
  • Rasa rindu itu pasti akan tetap ada
  • Keharmonisan dalam keluarga
4. Frase Pronomina :
  • Dirinya dan suami tetap tidak melewatkan kehidupan berkeluarga
  • Kedua anaknya telah menjadi dewsa
  • Dapat mengurus diri sendiri
  • Saya sudah menikah
  • Dirinya dan suami
5. Frase Numerelia :
  • (Tidak ada)
Diberdayakan oleh Blogger.

Waktu Anda Melihat