Morfologi

 TUGAS MORFOLOGI                                                               

A. MORFOLOGI
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata mory yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk beluk kata dan perubahannya serta dampak  dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas data. 
Perbedaan golongan arti kata-kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. Arti kata ini misalnya, bersepeda dan sepeda, yang berarti sepeda, artinya benda yang memiliki roda dua yang dijalankan dengan cara dikayuh. 
Jadi artikata hanya mengartikan kata tersebut. Jos Daniel perera memberi batasan morfologis(proses), yaitu morfem misa adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. Misalnya sepeda menjadi bersepeda arti(sansekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukkan arti-arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda dan lain-lain.

B. PROSES MORFOLOGI
Proses morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapat 3 proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks(afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan. Disamping 3 proses morfologi tersebut diatas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yag disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata-kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya termasuk golongan kata verbal yang transitif.

C. MACAM-MACAM PROSES MORFOLOGI
 1. Proses Pembubuhan Afiks (Afiksasi)
Afiksas merupakan nama lain dari morfem terikat. morferm terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan data yang dapat berdiri sendiri adalah morfem bebas. morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat beriri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dan lain-lain. penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
afikasi terdiri atas:
  • Pefiks(ber-, me-, per-, di-, ter-, ke-, se-)
  • Suiks (-kan, -an, -i)
  • Infiks (-el-, -em-, -er-)
  • konfiks (ber-kan, ber-an, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i)
  • Simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i)
2. Komposisi atau Pemajemukan
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. kata pemajemukan ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru.
contoh :
  • keras + kepala = keras kepala
  • mata + pelajaran = mata pelajaran
  • kamar + mandi = kamar mandi
3. Pengulangan (Reduplikasi)
reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seleruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Contohnya rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.
setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir, dan lainnya. Dalam tinjauan deskiftif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang, dari deretan morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. Secara historik atau komparatif, mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang.

D. MORFEM 
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. Jadi morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil.
Menurut bentuk dan maknanya, morfem dibagi menjadi dua:
  • morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain.
  • morfem terikat, yaitu morfem yag tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna, semua imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat.
Contoh morfem pada paragraf :
Pada hari minggu, Larasati melakukan pengamatan di sebuah pasar tradisional dekat rumahnya. Sebagian besar pedagang kurang peduli terhadap lingkungan yang ditempatinya. Mereka tidak memiliki tempat sampah. Mereka membuang sampah di sekitar tempat berjualan. Selain sampah, air bekas cuci piring dan bahan makanan juga dibuang begitu saja. Hal ini menimbulkan bau tidak sedap sehingga pembeli merasa tidak nyaman saat berbelanja. Selain itu, para pedagang juga menawarkan dagangannya dengan sikap kurang ramah. Akibatnya, hanya sedikit orang yang berbelanja disini.
*ket : (a) warna biru morfem bebas = 55 morfem , (b) warna merah morfem terikat = 39 morfem, (c) jumlah keseluruhan morfem = 94 morfem


DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti.2001.Kamus Linguistik.Edisi Ketiga.Jakarta:Gramedia.
Cher,Abdul.2008.Morfologi Bahasa Indonesia.Pendekatan Proses.Jakarta:Rineka Cipta.
Sutawijaya,Alam.1996.Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta:Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Resmini,Novi,dkk.2006. Kebahasan (fanologi,morfologi, dan semantik).Bandung:UPIPRESS

Fonologi

 TUGAS FONOLOGI

A. PENGERTIAN FONOLOGI

Asal kata fonologi, terdiri dari gabungan kata fon (yang berarti bunyi) dan logos (yang berarti ilmu). Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda yaitu Fonologie. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa fonologi adalag bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut bunyinya. Dengan demikian fonologi merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

B. MANFAAT FONOLOGI DALAM PENYUSUNAN EJAAN

Ejaan adalah  peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar ada dua unsur, yaitu segmental dan suprasemental, maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur  bunyi ujar tersebut.
Tata cara penulisan bunyi ujar (baik segmental maupun suprasemental) ini bisa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Sebagai contoh, ejaan bahasa indonesia yang selama ini telah diterapkan dalam penulisan memanfaatkan hasil studi fonologi bahasa indonesia, terutama yang berkaitan dengan pelambangan fonem. Oleh karena itu, ejaan bahsa indonesia dikenal dengan istilah ejaan fonemis.

C. BAGIAN FONOLOGI

 Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi menjadi dua bagian yakni:
1. Fonetik
Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fenom sebuah bahasa direalisasikan atau dihafalkan, fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.
Berikut macam-macam fonetik:
  • Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, yaitu meneliti bagaimana bagaimana buyi-bunyi bahasa itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Pembahasannya antara lain meliputi masalah alat-alat ucap ang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa itu; mekanisme arus udara yag digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa; bagaimana bunyi bahasa itu dibuat.
  • Fonetik akustik,yang objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat diudara, anara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat diudara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi.
  • Fenetik auditori, yaitu meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat diphami. Dalam hal ini tentunya pembahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga.
2. Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Dengan demikian fonemik merupakan ilmu yang mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.

   Ada bebarapa istilah yang berkaitan dengan fonologi:
  • Fona adalah bunyi ujaran yang bersifat netral atau masih belum terbukti membedakan arti.
  • Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan. Dalam bahasa, khusunya bahasa Indonesia terdapat huruf vokal. Huruf vokal merupakan huruf-huruf yang dapat berdiro tunggal dan menghasilkam bunyi sendiri. Huruf vokal terdiri atas a, i, u, e, o.
  • Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan rintangan adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi artikulator. Terdapat pula istilah hirif konsonan, yaitu huruf-huruf yang tidak dapat berdiri tunggal dan membutuhkan keberadaan huruf vokal untuk menghasilkan bunyi. Huruf  konsonan terdiri atas b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
  • Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsiona, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fenem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Fonem dalam sebuah istilah linguistik merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yangmasih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fenem berbentuk bunyi misalnya dalam bunyi bahasa Indonesia bunyi K dan G merupakan dua fonem yang berbeda, mislnya dalam kata "cagar" dan "cakar". Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi F,V dan P pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi bila dilafazkan menjadi "propinsi", "profinsi" atau "provinsi" akan tetap sama. Fonem tidak memiliki makna, tapi perannya dalam bahasa sangat penting karena fomem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem L dan R. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita akan mengkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem ainnya seperti M, A, dan h , maka fonem L, R, bisa membentuk makna "marah" dan "malah". Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem B, dan P pada kata tersebut. Contoh lain:mari, lari, dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa akibat yang besar yakmi perubahan arti.

D. PROSES PEMBENTUKAN BUNYI 
  
Pada dasarnya bunyi bahasa adalah getaran atas benda apa saja karena adanya energi yang bekerja. Sarana utama yang berperan dalam proses pembentukan kata adalah:
  1. Arus Suara, yang menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa merupakan hasil kerja alatatauorgan tubuh yang dikendalikan oleh otot-otot tertentu atas perintah syaraf-syaraf otak.
  2. Pita Suara, merupakan sumber bunyi yang bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk ke paru-paru. Pita suara terletak dalam kerongkongan pada posisi mendapat dari muka ke belakang.
  3. Alat Ucap, yaitu alat yang digunakan untuk mengahasilkan buyi bahasa yang mempunyai fungsi uatama lain yang bersifat fisiologis. Misalny paru-paru untuk bernafas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Alat ucap yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa dapat dibagi menjadi tiga komponen: (a) komponen suprsglotal, (b) komponen subglotal, (c) komponen laring.


DAFTAR PUSTAKA
Chaer,Abdul.2013.Fonologi Bahasa Inonesia:Jakarta:Bhinneka Cipta

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Penelusuran perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu tulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Nama-nama prasasti antara lain:
  1. Kududukan Bukit (683 Masehi),
  2. Talang Tuwo (684 Masehi),
  3. Kota Kapur (686 Masehi),
  4. Karang Brahi (686 Masehi),
  5. Gandasuli (832 Masehi),
  6. Bogor (942 Masehi)
Prasasti itu merupakan tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dengan bahasa Sansekerta.

  1. Prasasti kedudukan bukit yang ditemukan di tepi sungai Tantang di Sumatera  Selatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605  Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya.
  2. Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka menjelaskan tentang kontruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas penitas Hyang Sri Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri.
 Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi asal-usul bahasa  Melayu. Trakrar London 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat penting.
Bahasa mereka yaitu bahasa Melayu, bukan saja dipantai-pantai tamah Melayu, melainkan juga di seluruh Indian dan dinegeri-negeri sebelah Tinur . Oleh karena banyaknya bahasa ini digunakan, maka seorang yang mampu bertutur dalam bahasa Melayu dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina. Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun lokasinya yang berada dipintu gerbang Selat Malaka. Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Menjelmanya kota itu menjadi pusat penyebaran agama Islam. 
Dengan demikian, Malaka. Menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran agama Islam.
Pada tahun 1511 misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melatu tetap berlangsung.
Bahasa Melayu menambah jalannya juga kebenua Eropa dalam abad ke-16.
Pada tahun 1979 Raja Kecil, dari istana Kerajaan Johor,  dipaksa dipindahkan pusat kekuasaannya ke Ulun Riau, di Pulau Bintan, salah satupulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Dalam periode inilah bahasa melayu memperoleh ciri ke-Riauannya, dan bahasa Melayu inilah  yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetus oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 1713. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya. Ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bujunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normarif bahasa Malayu Riau; dan tahun 1894.
Pada tahun 1857 buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga.
Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai uapaya awal dalam proses pembakuan bahasa melayu Riau. Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendri .
 Beberapa peristiwa penting menyangkut perkembangan bahasa Melayu Riau:

  1. Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda.
  2. Tahun 1901 Charles van Ophuijesen menerbitkan bukunya yang berjudul kitab logat Melajoe, yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan huruf Latin yang bersifat fenomenis.
  3. Tahun 1918 bahasa Melayu mulai dipergunakan di dalam sidang-sidang Volksraad.
  4. Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa balai Pustaka.
  5. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa melayu dijadikan oleh para Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertulang pada butir ketika Soempah Pemoeda yang diijrarkannya.
  6. Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkancberbagai majalah dan bukum
  7. Pada tahun 1938 Kongres bahasa Melayu di Solo. Kongres ini meletakkan dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu lagi.
  8. Tahun 1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di semua jenjang pendidikan.
  9. Pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh dunia dengan menggunakan bahasa Indonesia.
  10. Tahun 1945 Kongres bahasa Indonesia  II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan daru Semenanjung Malaya dan Singapura.
  11. Tahun 1972 antara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang kebudayaan.
  12. Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan EyD di Indonesia dan di Malaysia.
  13. Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan istilah di Indonesia dan Malaysia, sehingga Negara Brunau Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam majelis bahasa ini.
  14. Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya diselenggarakan secara teratur setiap lima tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia.
  15. Kerjasama kebahasaan antara Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia, Negara Malaysia, Negara Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh.
Pada tahun 1956 terbentuk Negara Persekutuan Tanah Melayu. Peristiwa ini kemudian disusul dengan terbentuknya Negara Malaysia, yang mencangkup Serawak dan Sabah. Setelah kemerdekaan dicapai, bahasa Melayu dinegara tersebut mulai memerankan fungsinya sebagai bahasa resmi, bahasa negara, bahasa nasional, dan mengalami perkembangan cukup pesat. Bahkan secara de facto telah berperan sebagai bahasa komunikasi luas di Asia Tenggara.
Berdasarkan petunjuk-petunjuk lainnya, dapatlah kita kemukakan bahwa zaman sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut:
  1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku-buku tang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
  2. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Indonesia.
  3. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama disepanjang pantai, baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang daru luar Indonesia.

Berikut kongres bahasa Indonesia:
1. Pada tanggal 25-26 Juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia I di Solo.
Dari kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawaan Indonesua saat itu. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah UUD RI 1945, yang salah satu pasalnya menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.  Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik  sebagai penggantian Ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

2. Kongres bahasa Indonesia II di Medan tanggal 28 Oktober-2 November 1954
Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha menjadi perwujudan tekad bangsa Indonesia terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara. Pada tanggal 16 Agustus 1972, presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan EyD melalui pidato kenegaraan di sidang DPR yang dikuatkan juga dengan keputusan Presiden No.57 tahun 1972.

3. Kongres bahasa Indonesia III di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1978.
Dari hasil kongres itu dapat disinpulkan bahwa peristiwa penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dalam kongres ini dapat disepakati pula bahwa kongres bahasa Indonesia dilaksanakan setiap 5 tahun sekali setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda.

4. Kongres bahasa Indonesia IV di Jakarta 21-26 November 1983.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam keputusannya disebutkan bahwa pembinaan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan.

5. Kongres bahasa Indonesia V di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-3 November 1988.
Kongres imi dihadiri kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangi dengan persembahan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa Indonesia di nusantara, yakni KBBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

6. Kongres bahasa Indonesia VI di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1993.
Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang. Kongres ini mengusulkan agar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa ditingkatkan statusnya menjadi lembaga bahasa Indonesia, serta disusunnya UU Bahasa Indonesia.

7. Kongres bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia pada tanggal 26-30 Oktober 1998.
Kongres itucmengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentutan keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. Tugasnya memberi nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengmbangan Bahasa.

8. Kongres bahasa Indonesia VIII di Hotel Indonesia pada tanggal 14-17 Oktober 2003.
Peserta kongres diperkirakan berjumlah 1000 orang. Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinyavpusat bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, sebagai puncak dari seluruh kegiatan kabahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres XI bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008.

9. Kongres bahasa Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-1 Novber 2008.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres ini bersekala Internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.

10. Kongres pemuda Indonesia X di Jakarta 28-31 Oktober 2013.
Dalam kongres X setelah mendengar  dan memperhatikan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaab merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan kepala badan pengembangan dan pembinaan bahasa, serta paparan enam makalab pleno tunggal, di antaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang bergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi berkembang selama persidangan KBI X.

Cinta Bahasa indonesia

Cinta Bahasa Indonesia



Bahasa adalah identitas bangsa, bahasa adalah jati diri bangsa, bahasa sebagai bangsa Indonesia, bahasa membedakan suatu bangsa dari bangsa lain, bahasa Indonesia adalah identitas kita, bahasa indonesia adalah jati diri kita, ini tentu sebuah kebanggaan. Namun sayang, para generasi muda sebagai pilar utama dalam keberlangsungan bangsa saat ini, mulai dipertanyakan keberadaannya. Hal ini dapat dilihat dari gaya bahasa yang digunakan oleh generasi muda. Mulai dari bahasa gaul, bahasa alay, bahasa inggris di perpadukan dengan bahasa Indonesia, menjadi kebiasaan dalam berkomunikasi sehari-hari.

Mungkin ada orang yang tak ambil pusing dengan masalah ini, mungkin banyak yang menganggap spele hal ini, mereka acuh tak acuh seraya berkata "emang gue pikirin, masalah buat loe".
Miris melihat bahasa Indonesia dianggap "sampah" oleh anak bangsanya sendiri. Usang, ketinggalan zaman, tak laku dalam era globalisasi ini. Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia tak lagi kenal "sakral". Ketika ada orang-orang yang mencoba untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, justru diejek dan ditertawakan. Banyak juga orang-orang yang menganggap remeh bahasa Indonesia. Katanya bahasa Indonesia itu itu bahasa yang miskin kosakata, padahal kalau kita mau buka Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI), ada juga begitu banyak kosakata yang mungkin terdengar asing ditelinga kita.

Kegamangan identitas semakin masif melanda bangsa ini, apabila gejala ini tidak disikapi mulai dari sekarang maka lambat laun bahasa Indonesia  akan hilang ditelan zaman. Lambat laun bangsa ini akan kehilangan identitasnya. Sudah sejauh mana rasa cinta kita kepada bahasa Indonesia selama ini?. Patut di syukuri jika ada diantara kita "tersadar" dari kegamangan identitas ini. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencoba menularkan itu kepada orang-orang yang masih bisa "dipengaruhi dan diarahkan". Terutama kepada anak-anak kita yang dirumah, kenalkan Indonesia kepada mereka. Mari ajarkan bahasa Indonesia kepada anak sejak dini, perkenalkan mereka kepada bahasa Indonesia yang baik dan benar. Didik mereka agar mencintai bahasa dan negerinya, disini peran orangtua sangat penting. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kita tentu menginginkan bangsa kita menjadi bangsa yang bisa bersaing di dunia global.

Mungkin ada diantara kita yang pesimis melihat masa depan negeri ini. Hal ini wajar, apalagi ditengah kondisi bangsa yang morat-marit. Tapi bagi saya, selalu ada masa depan yang cerah bagi negeri kita ini, itu hanya akan terwujud jika anak bangsa belajar untuk terus mencintai negeri ini. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah belajar untuk mencintai bahasa Indonesia, kalau rasa cinta itu sudah kita pupuk maka tidak ada kata mustahil bagi bangsa Indonesia untuk bisa bersaing didunia global.



Daftat Pustaka
Http://m.kompasiana.com/paul_septinus/cintai-bahasa-ind

Bahasa Baku dan Bahasa Tidak Baku

Bahasa Baku dan Tidak Baku

  • Bahasa baku adalah bahasa yang cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar, seperti EyD, tata bahasa baku dan kamus besar bahasa Indonesia.
  • Fungsi bahasa baku yaitu sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan sebagai kerangka acuan.
  • Ciri-ciri bahasa baku yaitu tidak dipengaruhi bahasa daerah, tidak dipengaruhi bahasa asing, bukan merupakan ragam bahasa percakapan, pemakaian imbuhan secara eksplisit, tidak mengandung makna ganda,tidak mengandung arti pleonasme, dan tidak mengandung hiper korek.
  • Bahasa tidak baku adalah kata yang dipakai tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang sudah ditentukan. 
  • Fungsi bahasa tidak baku yaitu untuk mengakrabkan diri dan menciptakan kenyamanan serta kelancaran saat berkomunikasi

  • 20 kata baku dan tidak baku:
  1. Atlet = Atlit
  2. Analisis = Analisa
  3. Fondasi = Pondasi
  4. Teknik =Tekhnik
  5. Film = Filem
  6. Tampak = Nampak
  7. Surga = Sorga
  8. Maaf = Ma'af
  9. Cabai = Cabe
  10. Frekuensi = Frekwensi
  11. Februari = Pebruari
  12. Masjid = Mesjid
  13. Praktikum = Praktek
  14. Paham = Faham
  15. Izin = Ijin
  16. Jumat = Jum'at
  17. Foto = Photo
  18. Ijazah = Ijasah
  19. Kategori = Katagori


  • 20 macam kalimat baku:
  1. Atlet -> Atlet Indonesia mendapatkan mendali emas.
  2. Analisis -> Siswa dan siswi kelas VI mendapatkan tugas untuk menganalisis tanaman jambu.
  3. Fondasi -> Fondasi rumah itu sangat kuat.
  4. Teknik -> Saya lulusan dari teknik gambar bangunan.
  5. Film -> Ica sedang menontong nonton film bersama keluarganya.
  6. Tampak -> Gadis itu tampak cantik dengan menggunakan gaun merah.
  7. Surga -> Surga dibawah telapak kaki Ibu.
  8. Maaf -> Anto meminta maaf kepada Ani.
  9. Cabai -> Harga cabai dipasaran meningkat naik.
  10. Frekuensi -> Suara serine mengeluarkan bunyi dengan frekuensi 1000Hz.
  11. Februari-> Ali membuat acara syukuran pada bulan Februari.
  12. Masjid -> Ani shalat subuh berjamaah di masjid.
  13. Praktikum -> Siswa-siswi kelas XI akan melaksanakan praktikum pada pukul 08.00.
  14. Paham -> Dina salah paham terhadap Dini.
  15. Izin -> Siska izin tidak masuk kelas karena sakit.
  16. Jumat -> Diharapkan bagi siswa laki-laki untuk segera bersiap-siap shalat jumat di masjid.
  17. Foto -> Ica kelihatan cantik didalam foto ini.
  18. Ijazah -> Ani dan Ana akan mengambil ijazah pada hari sabtu.
  19. Kategori -> Nagita masuk dalam kategori artis paling cantik.
  20. Hafal -> Eka sedang menghafal lirik lagu.



Daftar Pustaka:
Indradi Agustinus.2003.Cermat Berbahasa indonesia. Indonesia.:Diona
Arifin Zaenal.2004.Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan. Indonesia.:Akademika Presindo
Http://www.ebahasaindonesia.com/2014/11/definisi-fungsi-dan-ciri-ciri-bahasa-html.
Http://www.gurupendidikanom/pengertian-dan-ciri-ciri-kata-baku-dan-tidak-baku-beserta-contohnya-secara-lengkap/


Diberdayakan oleh Blogger.

Waktu Anda Melihat