TUGAS MORFOLOGI
A. MORFOLOGI
A. MORFOLOGI
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata mory yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk beluk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas data.
Perbedaan golongan arti kata-kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. Arti kata ini misalnya, bersepeda dan sepeda, yang berarti sepeda, artinya benda yang memiliki roda dua yang dijalankan dengan cara dikayuh.
Jadi artikata hanya mengartikan kata tersebut. Jos Daniel perera memberi batasan morfologis(proses), yaitu morfem misa adalah proses perubahan dari golongan kata yang satu lalu berubah menjadi golongan kata yang lain akan tetapi dengan kata dasar yang sama. Misalnya sepeda menjadi bersepeda arti(sansekerta) hanya untuk kata dasar (sepeda), makna (arab), untuk menunjukkan arti-arti imbuhan gramatikal, contohnya bersepeda dan lain-lain.
B. PROSES MORFOLOGI
Proses morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapat 3 proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks(afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan. Disamping 3 proses morfologi tersebut diatas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yag disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata-kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya termasuk golongan kata verbal yang transitif.
C. MACAM-MACAM PROSES MORFOLOGI
1. Proses Pembubuhan Afiks (Afiksasi)
Afiksas merupakan nama lain dari morfem terikat. morferm terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan data yang dapat berdiri sendiri adalah morfem bebas. morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat beriri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dan lain-lain. penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
afikasi terdiri atas:
- Pefiks(ber-, me-, per-, di-, ter-, ke-, se-)
- Suiks (-kan, -an, -i)
- Infiks (-el-, -em-, -er-)
- konfiks (ber-kan, ber-an, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i)
- Simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i)
2. Komposisi atau Pemajemukan
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. kata pemajemukan ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru.
contoh :
- keras + kepala = keras kepala
- mata + pelajaran = mata pelajaran
- kamar + mandi = kamar mandi
3. Pengulangan (Reduplikasi)
reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seleruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Contohnya rumah-rumah dari bentuk dasar rumah.
setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir, dan lainnya. Dalam tinjauan deskiftif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang, dari deretan morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. Secara historik atau komparatif, mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang.
D. MORFEM
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. Jadi morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil.
Menurut bentuk dan maknanya, morfem dibagi menjadi dua:
- morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain.
- morfem terikat, yaitu morfem yag tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna, semua imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat.
Contoh morfem pada paragraf :
Pada hari minggu, Larasati melakukan pengamatan di sebuah pasar tradisional dekat rumahnya. Sebagian besar pedagang kurang peduli terhadap lingkungan yang ditempatinya. Mereka tidak memiliki tempat sampah. Mereka membuang sampah di sekitar tempat berjualan. Selain sampah, air bekas cuci piring dan bahan makanan juga dibuang begitu saja. Hal ini menimbulkan bau tidak sedap sehingga pembeli merasa tidak nyaman saat berbelanja. Selain itu, para pedagang juga menawarkan dagangannya dengan sikap kurang ramah. Akibatnya, hanya sedikit orang yang berbelanja disini.
*ket : (a) warna biru morfem bebas = 55 morfem , (b) warna merah morfem terikat = 39 morfem, (c) jumlah keseluruhan morfem = 94 morfem
Pada hari minggu, Larasati melakukan pengamatan di sebuah pasar tradisional dekat rumahnya. Sebagian besar pedagang kurang peduli terhadap lingkungan yang ditempatinya. Mereka tidak memiliki tempat sampah. Mereka membuang sampah di sekitar tempat berjualan. Selain sampah, air bekas cuci piring dan bahan makanan juga dibuang begitu saja. Hal ini menimbulkan bau tidak sedap sehingga pembeli merasa tidak nyaman saat berbelanja. Selain itu, para pedagang juga menawarkan dagangannya dengan sikap kurang ramah. Akibatnya, hanya sedikit orang yang berbelanja disini.
*ket : (a) warna biru morfem bebas = 55 morfem , (b) warna merah morfem terikat = 39 morfem, (c) jumlah keseluruhan morfem = 94 morfem
DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti.2001.Kamus Linguistik.Edisi Ketiga.Jakarta:Gramedia.
Cher,Abdul.2008.Morfologi Bahasa Indonesia.Pendekatan Proses.Jakarta:Rineka Cipta.
Sutawijaya,Alam.1996.Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta:Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Resmini,Novi,dkk.2006. Kebahasan (fanologi,morfologi, dan semantik).Bandung:UPIPRESS
